Sumber Bisnis untuk Wedding Entrepreneur

Kiat Bisnis : Marketing

9 Ciri Khas Dekorasi Pernikahan Adat Jawa Tradisional

[[ 1661126400 * 1000 | amDateFormat: 'll']] | 18k kunjungan


Akreditasi: Askara Photography

Sebagai suku dengan populasi terbanyak di Indonesia, rata-rata masyarakat berketurunan Jawa selalu berusaha melestarikan apa yang menjadi warisan budaya mereka. Dan, perhelatan pernikahan yang digelar secara akbar dinilai menjadi saat yang tepat untuk bereksplorasi dengan kultur asli adat. Segala unsur dalam pernikahan adat Jawa memang selalu berkesan di mata sebagian besar orang, mulai dari rangkaian prosesi adatnya yang sarat akan makna, riasan pengantin yang selalu ajeg dengan pakem, hingga ragam elemen dekorasi pernikahannya yang kerap menonjolkan ciri khas tersendiri. Tidak hanya berkontribusi untuk memperindah ruangan, nyatanya ragam ornamen dekorasi pernikahan Jawa ini juga memiliki makna tersembunyi yang penuh dengan pengharapan untuk menyambut gerbang kehidupan pasangan pengantin. Apa sajakah itu?

  1. Gebyok

    Akreditasi: Iluminen

    Gebyok menjadi ornamen dekorasi pernikahan adat Jawa yang kerap digunakan sebagai latar belakang pelaminan. Material yang paling banyak digunakan dalam proses pembuatan gebyok adalah kayu jati. Elemen yang satu ini dinilai berestetika tinggi berkat ragam ukirannya yang dibuat mendetail dengan unsur-unsur khas Jawa. Desain dari gebyok memiliki makna yang beraneka ragam, tergantung pada bagaimana motif pahatan yang dipilih, ada yang menyimbolkan kemakmuran, ketentraman, hingga keharmonisan hidup dengan alam. Layaknya sebuah pintu dengan jendela lebar, gebyok juga melambangkan dimulainya fase kehidupan baru bagi pasangan suami istri yang telah menikah.

  2. Ornamen Gunungan Wayang Kulit

    Akreditasi: Sanggar Ananda by Tatik Theresia

    Salah satu ornamen khas Jawa lainnya yang sering ditemukan dalam setiap kesempatan adalah gunungan wayang kulit. Elemen ini biasa diletakkan pada bagian kanan dan kiri pelaminan dalam ukuran besar. Sejatinya, bentuk gunungan yang mengerucut ke atas ini mengadopsi dari cerita perwayangan yang biasa ditemukan pada pertunjukan khas Jawa. Gunungan tersebut kerap digunakan sebagai pembuka dan penutup dalam pertunjukan hiburan masyarakat Jawa. Ornamen gunungan juga tersedia dalam desain yang istimewa, mulai dari ukiran rumah, pepohonan, hewan, samudra, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, gunungan wayang kulit pada dekorasi pernikahan adat Jawa diartikan sebagai tahapan kehidupan yang harus dilalui oleh pasangan pengantin.

  3. Bleketepe

    Akreditasi: Antara Foto

    Pemasangan bleketepe di bagian depan rumah atau di sekitar tempat berlangsungnya pernikahan menandakan bahwa rangkaian prosesi pernikahan adat Jawa siap untuk dilaksanakan. Bleketepe diserap dari kata bale katapi, yang artinya sebuah tempat di mana kotoran akan dipilah untuk kemudian dibuang. Dengan kata lain, bleketepe memiliki makna khusus sebagai penolak bala agar acara pernikahan dapat berjalan dengan lancar tanpa suatu halangan apa pun. Wujud dari bleketepe berupa anyaman daun kelapa yang masih hijau. Nantinya, ayah dari pengantin wanita lah yang akan memasang bleketepe di sepanjang area pernikahan.

  4. Buah-buahan dan Sayuran

    Akreditasi: Fatahillah Ginting

    Selain bunga, rupanya rangkaian buah-buahan dan sayuran juga bisa menjadi alternatif yang menarik untuk dekorasi pada bagian depan pelaminan. Aneka hasil bumi tersebut nantinya akan disusun secara teratur berdasarkan jenis dan warnanya. Berbagai tanaman buah yang dapat dipilih, antara lain nanas, anggur, pisang, apel, ataupun rambutan. Sementara untuk kategori sayuran meliputi wortel, kacang panjang, terong, sawi, dan lain-lain. Untaian buah-buahan dan sayuran ini merupakan lambang dari kesejahteraan dan kemakmuran dalam mengarungi bahtera rumah tangga kelak.

  5. Kain Batik

    Akreditasi: Amarillis Party and Decoration

    Keberadaan kain batik menjadi estetika seni Jawa yang tidak boleh dilewatkan dalam rangkaian dekorasi pernikahan adat Jawa. Setiap motif dari kain batik menyimpan arti yang berbeda-beda, bahkan sebagian masyarakatnya meyakini bahwa makna tersebut dapat memengaruhi kehidupan mereka di masa depan. Misalnya, penggunaan batik Sido Mukti adalah simbol pengharapan agar pasangan pengantin senantiasa dilimpahi kebahagiaan lahir dan batin, sementara kain Sido Luhur berarti suatu kedudukan yang tinggi dan hidup menjadi panutan masyarakat. Selain dijadikan sebagai pelengkap sandang, kain batik juga bisa digunakan untuk menghiasi area pelaminan, kursi tamu, hingga meja penerima tamu.

  6. Ikon Rumah Joglo

    Akreditasi: Owlsome Project

    Masyarakat Jawa memiliki salah satu rumah adat yang cukup ikonik, yaitu rumah Joglo. Umumnya, pihak yang membangun rumah Joglo adalah golongan orang-orang dengan status sosial yang tinggi. Memiliki bentuk layaknya sebuah limas, rumah tradisional ini ditopang oleh soko guru atau empat tiang penyangga dalam ukuran besar. Filosofi dari keempat tiang tersebut merupakan gambaran tentang kekuatan dari arah mata angin, yang artinya adalah bentuk perlindungan dari kemungkinan bencana di masa depan. Maka dari itu, ikon rumah Joglo sering dijadikan sebagai elemen dekorasi pernikahan adat Jawa pada bagian pelaminan.

  7. Patung Loro Blonyo

    Akreditasi: Reza Prabowo Photography

    Loro Blonyo adalah patung yang menyerupai sepasang pengantin Jawa. Kedua patung ini sering dihadirkan dalam setiap gelaran upacara pernikahan. Patung wanita Loro Blonyo merupakan representasi dari Dewi Sri atau Dewi Kesuburan, sementara patung prianya merupakan simbolisasi dari Dewa Wisnu. Loro Blonyo diartikan sebagai lambang kesuburan, kemakmuran, dan keharmonisan untuk pasangan pengantin. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, patung Loro Blonyo juga mampu menghalau segala hal buruk yang berpotensi terjadi di hari pernikahan.

  8. Kombinasi Bunga-bunga Segar

    Akreditasi: Askara Photography

    Dalam pernikahan adat Jawa, terdapat beberapa jenis bunga yang biasanya dijadikan sebagai elemen pendukung, mulai dari ronce melati, sedap malam, mawar, hingga kembang kantil. Masing-masing dari bunga tersebut memang terkenal unggul akan wanginya yang menyegarkan. Salah satu variasi bunga yang kerap mendominasi dekorasi pernikahan Jawa adalah sedap malam. Bunga yang satu ini dipercaya dapat mengeluarkan aura pengantin agar terlihat lebih ayu dan memesona. Bahkan, aroma yang dihasilkan dari bunga sedap malam juga dianggap mampu meningkatkan kenyamanan para tamu undangan.

  9. Kembar Mayang

    Akreditasi: Iluminen

    Kembar mayang adalah sepasang elemen dekoratif yang terbuat dari rangkaian janur atau daun kelapa muda. Kedua hiasan ini umumnya akan baru akan diserahkan oleh rombongan pengantin pria tepat setelah prosesi ijab kabul. Kembar mayang memiliki bentuk, berat, dan wujud yang sama besar. Ini disimbolkan sebagai do'a dan harapan agar pasangan pengantin senantiasa mengayomi satu sama lain dan dilindungi dengan segenap kebahagiaan.

Itulah kesembilan ciri khas dekorasi pernikahan adat Jawa Tradisional yang sarat akan makna.

Ikuti Percakapan
BACA [[blogCommentsCtrl.commentsMeta.total]] Komentar
[[ comment.createdAt | amDateFormat: 'll | HH:mm']]

[[comment.account.data.accountable.data.businessName]] [[comment.account.data.accountable.data.fullName]]

[[ comment.content | extractEmoji ]]