“The Business Resource For Wedding Entrepreneurs”

Business Tips : Client Relations

4 Tips Menengahi Dua Keluarga yang Berbeda Pendapat Saat Mempersiapkan Pernikahan

[[ 1655769600 * 1000 | amDateFormat: 'll']] | 73 views

Anda para perencana pernikahan mungkin kerap mengalami berbagai peristiwa yang tidak terduga saat harus mempersiapkan pernikahan untuk klien Anda, entah itu mengenai kedua mempelai yang saling berseteru soal permasalahan sepele, sampai hadirnya keluarga dari calon pengantin yang seolah harus memiliki andil lebih untuk menentukan seperti apa konsep pernikahan yang ideal bagi anak-anak mereka.


Sejatinya, proses perencanaan pernikahan bisa menjadi saat yang paling melelahkan bagi calon mempelai, mereka tentu tidak ingin ada anggota keluarganya yang saling berselisih paham satu sama lain. Nah, kali ini, Bridestory bersama Meyliana Tanoto, selaku Senior Wedding Consultant dari Hilda by Bridestory akan membahas tentang strategi menengahi dua keluarga yang berbeda pendapat saat mempersiapkan pernikahan. Karena, bukan tidak mungkin hal tersebut justru akan menimbulkan konflik yang tidak berkesudahan.


  1. Dengarkan Pendapat dari Kedua Belah Pihak Keluarga
    Pertama-tama, hal yang harus Anda lakukan adalah mendengarkan pandangan dari kedua belah pihak keluarga tanpa harus memihak siapa pun. Berikan waktu kepada mereka untuk saling mengemukakan pendapat ataupun saran yang mungkin saja akan sangat berharga di hari pernikahan klien Anda nantinya. Karena bagaimanapun, setiap orang tua pasti menginginkan hari bahagia anak-anaknya dapat berjalan dengan sempurna. Secara tidak langsung hal ini juga menunjukkan bentuk kepedulian dari keluarga besar mereka. "Cobalah untuk mendengarkan masukkan dari kedua belah pihak. Kemudian berikan solusi yang tepat, apakah hal yang mereka mau bisa terlaksana atau tidak," tutur Meyliana. Jangan lupa untuk memberikan ucapan terima kasih atas masukan berharga mereka.
  2. Tenangkan Calon Pengantin agar Tidak Panik
    Biasanya, calon pengantin akan cenderung mudah dikuasai oleh rasa panik akibat banyaknya tekanan yang muncul dari pihak keluarga. Jadi, sebisa mungkin pastikan untuk tetap menjaga suasana hati klien Anda guna menghindari konflik yang tidak diinginkan. "Tenangkan selalu calon pengantin karena biasanya masalah bukan datang dari keduanya, melainkan dari pihak keluarga. Lalu, berikan nasihat kepada mereka untuk selalu berkata jujur kepada perencana pernikahan apa pun yang sedang terjadi. Tidak boleh ada yang ditutup-tutupi, supaya kami bisa bertindak benar dan tidak terlihat memihak kepada siapa pun," saran Mey. Berikan kalimat pengertian yang sekiranya mampu menstabilkan emosi mereka. Keluarga yang sedang bertengkar bukan berarti mereka tidak akan kembali akur atau hubungan calon pengantin akan hancur.
  3. Berikan Waktu yang Cukup untuk Berpikir
    Sebagai perencana pernikahan, Anda harus tahu betul bahwa calon pengantin perlu memiliki quality time berdua dengan sangat layak. Bila keduanya adalah seorang pekerja, Anda mungkin harus membiarkan mereka untuk merenung sedikit lebih lama, mengingat waktu luang yang dimiliki cukup terbatas. Namun, pastikan bahwa keduanya sudah benar-benar melakukan tukar pikiran satu sama lain untuk mendiskusikan keinginan dan kekhawatiran masing-masing, tentunya dengan melibatkan kedua keluarga guna memecahkan masalah bersama. "Berikan waktu yang cukup bagi keduanya untuk berpikir setelah melakukan perdebatan. Sebisa mungkin, hindari untuk mengejar jawaban mereka dalam waktu dekat," Mey menganjurkan.
  4. Cari Solusi Terbaik yang Saling Menguntungkan
    Salah satu perbedaan pendapat yang kerap terjadi di antara kedua keluarga umumnya perihal jumlah undangan pernikahan serta bagaimana cara pembagiannya. Sebagai contoh, keluarga calon mempelai perempuan jauh lebih menyukai pesta dengan jumlah undangan yang lebih sedikit, sementara keluarga dari calon mempelai pria justru sebaliknya. Ada pula yang mempermasalahkan soal pembagian biaya pernikahan, siapa pihak yang harus membayar lebih banyak dan siapa yang tidak. Hal ini tentunya perlu dikomunikasikan dengan jelas sejak awal.
    "Sebagai pihak luar, Anda tentu lebih mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak untuk dilakukan oleh kedua keluarga. Jadi, berikan solusi yang dapat diterima oleh masing-masing keluarga," ujar Mei. Ia juga menambahkan bahwa calon pengantin sebaiknya tidak bertindak gegabah dalam memutuskan sesuatu, "Lakukan diskusi terlebih dahulu kepada kami sebagai wedding planner dan wedding organizer. Baru setelahnya libatkan kedua orang tua untuk diskusi yang lebih besar." Dengan kata lain, tekankan kepada klien Anda untuk selalu bersikap terbuka kepada perencana pernikahan.

Itulah sejumlah tips untuk menengahi dua keluarga yang berbeda pendapat saat mempersiapkan pernikahan. Tentunya, Anda perlu membekali diri dengan 'amunisi' yang tepat agar permasalahan tersebut tidak berdampak buruk bagi keberlangsungan rencana pernikahan klien Anda.

Join The Conversation
Read [[blogCommentsCtrl.commentsMeta.total]] Comments
[[ comment.createdAt | amDateFormat: 'll | HH:mm']]

[[comment.account.data.accountable.data.businessName]] [[comment.account.data.accountable.data.fullName]]

[[ comment.content | extractEmoji ]]